A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined offset: 1

Filename: models/Counter_model.php

Line Number: 146

Backtrace:

File: /home/dispeterikan/public_html/application/models/Counter_model.php
Line: 146
Function: _error_handler

File: /home/dispeterikan/public_html/application/models/Counter_model.php
Line: 51
Function: _userAgent

File: /home/dispeterikan/public_html/application/models/Counter_model.php
Line: 14
Function: browser_user

File: /home/dispeterikan/public_html/application/controllers/Home.php
Line: 19
Function: simpanPengunjung

File: /home/dispeterikan/public_html/index.php
Line: 315
Function: require_once

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined offset: 1

Filename: models/Counter_model.php

Line Number: 146

Backtrace:

File: /home/dispeterikan/public_html/application/models/Counter_model.php
Line: 146
Function: _error_handler

File: /home/dispeterikan/public_html/application/models/Counter_model.php
Line: 168
Function: _userAgent

File: /home/dispeterikan/public_html/application/models/Counter_model.php
Line: 15
Function: os_user

File: /home/dispeterikan/public_html/application/controllers/Home.php
Line: 19
Function: simpanPengunjung

File: /home/dispeterikan/public_html/index.php
Line: 315
Function: require_once

A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: Cannot modify header information - headers already sent by (output started at /home/dispeterikan/public_html/system/core/Exceptions.php:271)

Filename: models/Counter_model.php

Line Number: 23

Backtrace:

File: /home/dispeterikan/public_html/application/models/Counter_model.php
Line: 23
Function: setcookie

File: /home/dispeterikan/public_html/application/controllers/Home.php
Line: 19
Function: simpanPengunjung

File: /home/dispeterikan/public_html/index.php
Line: 315
Function: require_once

Kabupaten Magelang

KABUPATEN MAGELANG MENUJU KANTONG BIBIT TERNAK NASIONAL

Zakia Ulfah, S.Pt. M.Eng/Wasbitnak Berita Terkait Tugas dan Fungsi


       Permasalahan perbibitan khususnya ketersediaan bibit unggul dan bakalan berkualitas adalah masalah klasik dalam dunia peternakan.  Permasalahan-permasalahan tersebut pada akhirnya bernuansa politis karena menyangkut kebijakan pemerintah dalam hal penyediaan daging sapi lokal.  Demi mereduksi berbagai permasalahan tersebut pemerintah melakukan berbagai upaya, salah satunya adalah dengan pembentukan Sentra Peternakan Rakyat (SPR).
       Sentra Peternakan Rakyat adalah salah satu program unggulan dari Direkterat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Republik Indonesia yang tujuan utamanya adalah untuk menyejahterakan peternak sekaligus menjadikan peternak sebagai tuan rumah di Negerinya sendiri dengan mewujudkan kedaulatan pangan asal ternak di Indonesia. Sentra Peternakan Rakyat (SPR) merupakan suatu kawasan tertentu sebagai media pembangunan peternakan dan kesehatan hewan yang di dalamnya terdapat populasi ternak tertentu yang dimiliki oleh sebagian besar pemukim di satu desa atau lebih, serta sumber daya alam untuk kebutuhan hidup ternak (air dan bahan pakan). Di dalam SPR, terdapat Sekolah Peternakan Rakyat (Sekolah PR) yang merupakan sarana transfer ilmu pengetahuan dan teknologi untuk membangun kesadaran peternak dan mendorong tindakan kolektif.  Melalui SPR, peternak berskala kecil baik individu maupun yang sudah tergabung dalam kelompok atau asosiasi didorong untuk berkonsolidasi membangun perusahaan kolektif yang dikelola secara profesional dalam satu manajemen. Ini merupakan salah satu upaya untuk menjadikan peternak berdaulat dan memiliki posisi tawar lebih tinggi (Ditjend PKH, 2015). Sentra Peternakan Rakyat yang sudah dideklarasikan di Kabupaten Magelang pada tanggal 12 Oktober 2015 merupakan sebuah bentuk komitmen Pemerintah Kabupaten Magelang untuk menjaga ketersediaan ternak terutama sapi potong di Kabupaten Magelang yang merupakan salah satu kantong Ternak Sapi Potong  di Jawa Tengah.  Populasi Sapi Potong di Kabupaten Magelang pada tahun berdasarkan hasil Pendataan Sapi Potong, Sapi perah, dan kerbau (PSPK) tahun 2011 mencapai 68.340 ekor dari 1.937.551 total populasi sapi potong di Provinsi Jawa tengah.  


 
Ada 6 lokasi SPR yang sudah diusulkan yaitu : (1). SPR Trimulyo (Sawangan Bawah); (2)SPR Lembu Panca Mulya (Sawangan Atas); (3) SPR Borobudur Manunggal (Borobudur); (4)SPR Tri Argo Mulyo ( Ngablak); (5)SPR Lembu Mas (Pakis); (6)SPR Lembu Aji (Candimulyo). Dari keenam  SPR yang sudah dibentuk tersebut saat ini yang sudah disetujui oleh Direktorat Jenderal  Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian RI adalahSPR Trimulyo yang terletak di Kecamatan Sawangan terutama bagian bawah yang terdiri dari 18 Kelompok tani Ternak dengan populasi bibit betina mencapai 1009 ekor. SPR ini meliputi 4 Desa di Kecamatan Sawangan yaitu : Podosoko, Butuh, Gondowangi dan Tirtosari.
Perbibitan menjadi sangat penting untuk menjaga populasi sapi potong di kawasan SPR.   Teknologi perbibitan dan pencatatan (recording) yang baik akan menjadi sangat penting.  Pemilihan bibit unggul dan penerbitan SKLB (Surat Keterangan Layak Bibit) juga diperlukan untuk menghasilkan indukan sapi potong yang berkualitas sesuai dengan Standard Nasional Indonesia (SNI).
   
       Pencatatan silsilah dan tetua dari indukan harus dilakukan sebaik mungkin untuk mengetahui riwayat seekor indukan serta sifat-sifat baik yang dimiliknya untuk diturunkan kepada keturunan selanjutnya.   Dengan kata lain proses seleksi bibit menjadi sangat penting untuk menjaga kualitas populasi di sebuah kawasan SPR.  Selain seleksi induk, pelaksanaan Inseminasi Buatan (IB) dengan straw (semen) yang berasal dari pejantan unggul juga menentukan kualitas pedhet yang dihasilkan.


Gambar : Skema urutan Inseminasi Buatan pada Sapi (Sumber : www. zoelonline.wordpress.com/2012/11/22)


       Inseminasi Buatan adalah salah satu bentuk sentuhan teknologi perbibitan. Namun demikian selain inseminasi Buatan beberapa sentuhan teknologi perbibitan yang bisa diterapkan antara lain adalah :



       Sentuhan teknologi perbibitan tersebut  dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas ternak yang dihasilkan pada sebuah kawasan jika dibandingkan tanpa sentuhan teknologi. 
       Selain penerapan teknologi perbibitan,recording (pencatatan) juga menjadi sangat penting, dengan  pembentukan SPR harapannya peternak akan semakin baik dalam melakukan pencatatan kondisi ternak yang dimiliknya dengan bantuan manager SPR. Seleksi bibit unggul juga bisa dilakukan dengan sungguh-sungguh sehingga kualitas bibit yang dihasilkan juga akan semakin meningkat. Ketersediaan bibit unggul pun menjadi semakin meningkat.  Adanya bibit-bibit unggul akan menghasilkan keturunan pendet dengan sifat-sifat unggul yang dimiliki induknya.


 Dalam skala wilayah yang lebih luas, dengan pencatatan maka akan diketahui kondisi baik kuantitas maupun kualitas ternak sapi potong yang ada di sebuah kawasan SPR.  Data yang diperoleh akan memudahkan pemasaran ternak serta meningkatkan daya saing sebuah kawasan.   Ketersediaan data peternakan di satu kawasan akan menjadi nilai lebih yang  akan menarik investor maupun pedagang untuk menanamkan modal ataupun membeli produk-produk hasil pertanian di sebuah wilayah.   Kepastian ketersediaan produk peternakan akan menjadi alasan penting investor maupun pedagang untuk menjalin hubungan kerja sama perdagangan dengan sebuah wilayah.   Tanpa kepastian ketersediaan produk peternakan akan menurunkan minat pedagang untuk menjalin kerja sama perdagangan.  Hasilnya adalah meningkatnya pendapatan peternak artinya kesejahteraan peternak juga semakin meningkat.  Dapat disimpulkan bahwa selain penerapan teknologi  perbibitan, management peternakan juga memang peranan yang sangat penting.  Management peternakan yang baik dapat ditingkatkan dengan pembentukan SPR.  Semoga dengan terbentuknya SPR di Kabupaten Magelang dapat menjamin ketersediaan bibit unggul dan menjadikan Kabupaten Magelang sebagai salah satu kantong sapi potong yang bisa diperhitungkan secara nasional. Amiin.
   
Daftar Pustaka   
  1. Direktorat Jendral Peternakan dan Kesehatan Hewan, 2015. Pedoman Umum Sentra Peternakan Rakyat (SPR). Kementerian     Pertanian RI.
  2. Pendataan Sapi Potong, Sapi Perah dan Kerbau Tahun 2011. 2011. Badan Pusat Statistik dan Direkterot Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan kementrian Pertanian RI.
  3. www./zoelonline.wordpress.com/2012/11/22/metode-deteksi-kebuntingan-pada-ternak-sapi-bag-i/skema-urutan-ib-sapi/ Diakses pada 24 Februari 2016
  4. Prof.Dr. Ir. Muladno, MSA. 2012. Orasi Ilmiah : Menata Perbibitan Ternak dalam Menjamin Ketersediaan Bibit/Benih Ternak di Indonesia. Institut Pertanian Bogor